Thursday, June 28, 2018

Agar Riset Pendidikan lebih Berdampak

Oleh: Anindito Aditomo
 
 

Kemarin beruntung bisa mendengarkan presentasi menarik Profesor Catherine Snow dari Harvard Graduate School of Education yang sedang menjadi peneliti tamu di Goethe-Universit├Ąt. Prof. Snow seorang pakar multi (atau lintas?) disiplin. Ia belajar psikologi eksperimen di Amerika, sebelum mendalami psikologi perkembangan di Kanada, dan kemudian mengajar linguistik di Amsterdam. Sekembali ke Amerika, ia berganti haluan menjadi peneliti pendidikan. Ia tergolong penulis yang amat produktif. 20 halaman tidak cukup untuk mencetak daftar publikasi ilmiahnya!
 

Kemitraan Riset-Praktik

Kemarin Prof. Snow membagikan pengalamannya melakukan "research-practice partnership" (RPP) atau, kalau dialihbahasakan, Kemitraan Riset-Praktik (KRP). Gagasan ini relatif baru, dikembangkan awal 2000an untuk mengatasi problem minimnya dampak riset pendidikan terhadap praktik.
 
Menurut Prof. Snow, riset pendidikan di Amerika tidak memberi dampak signifikan pada perbaikan praktik pendidikan. Salah satu penyebabnya adalah soal relevansi. Kebanyakan riset dilakukan untuk menjawab pertanyaan ilmiah yang seringkali penting/menarik bagi peneliti, namun terasa tak relevan bagi praktisi. KRP digagas untuk meningkatkan relevansi riset pendidikan terhadap praktik.
 
Pendidik di Indonesia sebenarnya sudah mengenal konsep yang mirip dengan KRP, yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan terjemahan dari “action research”. Dalam PTK, guru diposisikan menjadi peneliti yang mengeksplorasi kelasnya sendiri sebagai kancah riset. Dengan demikian, guru diharap menjadi lebih reflektif dan bisa menerapkan inovasi berbasis risetnya sendiri. 
 
Terdengar ideal, bukan?
 
Tapi menurut Prof. Snow, PTK adalah konsep yang terbukti gagal. Sebagian besar PTK gagal menghasilkan pengetahuan yang bermutu, atau pun inovasi yang berkelanjutan. Dan ini wajar saja. Tak masuk akal berharap guru untuk merangkap sebagai peneliti. Ini seperti meminta guru melakukan dua pekerjaan kompleks pada saat yang sama. Ibarat mengharap seorang pemain sepakbola untuk merangkap sebagai staf litbang klub tempatnya bekerja.
 
Tidak seperti PTK, dalam konsep KRP guru tetap berposisi sebagai praktisi. Peran sebagai peneliti dipegang oleh akademisi yang ahli meneliti. Yang membedakan dengan riset akademik adalah KRP menempatkan guru sebagai pemegang otoritas yang setara dengan peneliti. Misalnya, KRP mengutamakan problem yang dianggap urgen oleh praktisi. Pertanyaan riset dirumuskan bersama-sama dari problem tersebut. Pemaknaan terhadap data juga dilakukan bersama-sama. Selain itu, orientasi utama KRP bukan untuk menghasilkan publikasi ilmiah. Orientasinya lebih untuk menghasilkan knowledge-based tools: perangkat praktis yang bisa memperbaiki pengajaran atau kebijakan secara langsung.
 

Kurikulum “Word Generation”

Contoh KRP yang diuraikan Prof. Snow kemarin adalah proyek “Word Generation” (WG). Proyek ini berawal dari problem rendahnya literasi siswa SMP-SMA di seputar Boston. Siswa di sana bukannya tidak bisa membaca. Yang mereka sulit lakukan adalah membaca secara kritis dan mendalam, untuk kemudian belajar dari bacaan tersebut. Menurut survei PISA, hanya sekitar 8% siswa kelas 9/10 di Amerika yang memiliki kemampuan literasi tingkat tinggi. [Di Indonesia, angkanya sekitar 2% atau malah kurang!]
 
 
Karena proyek WG dilakukan dalam paradigma KRP, yang dikerjakan pertama adalah menggali masalah literasi dari perspektif guru. Bukan hanya guru bahasa, tapi guru berbagai mata pelajaran. Ternyata, para guru tidak berbicara tentang literasi tingkat tinggi, melainkan soal kosakata. Banyak siswa yang tidak paham makna berbagai kosakata penting yang digunakan di pelajaran dan buku teks. Karena itu, agenda pertama tim WG adalah membuat kurikulum yang memberi kesempatan siswa untuk menggunakan kosakata akademik secara otentik, dalam konteks yang bermakna.
 
Selama 3 tahun kemudian, Prof. Snow bersama tim kecilnya (ia menyebut 2 staf peneliti, plus mahasiswa) bekerjasama dengan guru dari 3 atau 4 sekolah untuk membuat sebuah kurikulum baru. Kurikulum yang kemudian mereka namai “Word Generation” ini tidak semata-mata terfokus pada membaca. Intisari dari kurikulum WG justru pada aktivitas diskusi dan argumentasi. Konsep dasarnya adalah siswa diberi pertanyaan besar tentang isu kontroversial. Pertanyaan ini harus terbuka dan kompleks, dalam arti tidak ada jawaban tunggal yang benar secara absolut, semacam “Siapa yang berkewajiban melindungi remaja dari predator online?” atau “Apakah dokter seharusnya diperbolehkan membantu pasien sekarat yang ingin mengakhiri hidupnya?”
 
Topik semacam ini tentu menuntut waktu. Dalam kurikulum WG, tiap topik dibahas selama 1 sampai 2 minggu, pada berbagai mata pelajaran. Contoh tipikalnya begini: pada hari Senin, topik diperkenalkan di kelas bahasa. Siswa diberi bacaan inti yang menyampaikan pendapat dan bukti dari berbagai sisi (1-2 jam pelajaran). Pada hari Selasa, pelajaran matematika disampaikan menggunakan soal-soal cerita yang memuat kosakata kunci dari bacaan kemarin. Hari Rabu, dalam konteks pelajaran IPS, siswa berdebat tentang pro dan kontra tiap posisi mengenai isu minggu itu. Hari Kamis, hal yang sama diulang dalam konteks pelajaran IPA. Hari Jumat, siswa diminta menulis esai berisi argumentasi pribadinya tentang isu tersebut.
 

Relevansi dan dampak praktis

Data evaluasi randomised control trial menunjukkan efektivitas kurikulum WG dibanding kurikulum konvensional. Ini tidak mengherankan, karena riset sebelumnya secara konsisten menunjukkan bahwa diskusi antar rekan (peer discussion) adalah metode yang sangat potensial. 
 
Masalahnya, seberapa banyak guru dan sekolah yang mau menerapkan kurikulum WG? Dari yang mau, berapa yang bisa menerapkannya dengan baik? Dampak praktis inilah yang menjadi tujuan utama proyek KRP seperti WG.

Monday, May 28, 2018

Riset Pendidikan Berbasis Data Tes Internasional (Annotated Bibliography)

Tulisan ini berisi catatan bacaan alias reading notes. Semacam annotated bibliography tentang studi-studi pendidikan, khususnya yang didasarkan pada tes-tes internasional berskala besar seperti PISA, TIMSS, dan PIRLS. Tulisan saya perbarui secara periodik (yang artinya, belum tentu secara rutin!).

The Role of Schooling in Perpetuating Educational Inequity: An International Perspective (Schmidt, dkk., 2015).

Artikel ini mengkaji peran "kesempatan belajar" (opportunity to learn, OTL) sebagai variabel perantara yang menjelaskan kaitan antara status ekonomi sosial (SES) dengan prestasi matematika. Para penulis menyatakan bahwa kaitan antara SES dan prestasi akademik sudah bisa dianggap sebagai fenomena yang well-established. Secara rata-rata, siswa dari keluarga kaya cenderung lebih tinggi prestasinya di sekolah. Dalam artikel ini, Schmidt dkk ingin menunjukkan bahwa salah satu mekanisme pengaruh SES terhadap prestasi adalah melalui kesempatan belajar yang tersedia bagi siswa.

Metode. Schmidt dkk memanfaatkan data PISA 2012 untuk menjawab pertanyaan penelitiannya. OTL dioperasionalkan sebagai "intensitas paparan (exposure) terhadap topik-topik matematika", yang diukur pada level individu siswa. Dalam bahasa yang lebih sederhana, OTL dalam riset ini adalah apakah siswa pernah diperkenalkan pada topik-topik matematika (khususnya aljabar dan geometri). SES dioperasionalkan sebagai komposit (paduan) dari tiga indikator: profesi orangtua, tingkat pendidikan orangtua, dan harta benda di rumah. Beberapa variabel juga dimasukkan untuk dikontrol secara statistik: gender, usia, kelas, dan apakah siswa mengerjakan tes dalam bahasa ibunya. Analisis dilakukan dengan berbagai teknik, termasuk regresi multijenjang dan pemodelan struktural.

Temuan. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan adanya kaitan erat antara SES, OTL, dan prestasi matematika. Pemodelan struktural menunjukkan bahwa OTL menjadi variabel perantara bagi kaitan antara SES dan prestasi. Ini terjadi pada level individu, sekolah, maupun negara.

  • Pada level individu, siswa dari keluarga SES tinggi cenderung lebih sering diperkenalkan pada berbagai topik matematika, dan cenderung lebih tinggi pula prestasi matematikanya (dibanding siswa SES rendah di sekolah yang sama). 
  • Pada level berikutnya, siswa yang bersekolah di sekolah ber-SES tinggi cenderung lebih banyak mendapat paparan pada berbagai topik matematika, dan cenderung lebih tinggi pula prestasinya (dibanding siswa dari latar belakang keluarga yang mirip, tapi bersekolah di sekolah dengan SES rendah). 
  • Pada level negara, kesenjangan OTL berasosiasi dengan kesenjangan prestasi. Dengan kata lain, semakin besar kesenjangan OTL (antar sekolah di sebuah negara), semakin besar pula kesenjangan prestasi (antar sekolah di negara itu).

Sumber: Schmidt, Burroughs, Zoido, dan Houang (2015), halaman 375.
Selain itu, ada temuan menarik tentang perbedaan antar negara. Kesenjangan kesempatan belajar (dan kesenjangan prestasi) paling besar ada di negara-negara seperti Belanda dan Jerman yang menerapkan pemisahan jalur sekolah (tracking, misalnya akademik vs. vokasional). Tapi kesenjangan cukup besar juga terlihat di negara-negara yang secara formal ingin memberi kesempatan belajar yang sama pada semua siswa (seperti di Amerika, Inggris, Selandia Baru, dan Australia). Kesenjangan ini muncul karena di dalam sekolah yang sama, siswa cenderung mendapat kesempatan belajar yang berbeda, yang sebagian tergantung pada latar belakang SES siswa tersebut.

Implikasi. Temuan-temuan Schmidt dkk menunjukkan bahwa kesenjangan prestasi (matematika) mungkin bisa dikurangi melalui pemberian kesempatan belajar yang lebih setara/seragam. Schmidt dkk mengatakan bahwa mengubah kebijakan pendidikan (untuk mengurangi kesenjangan kesempatan belajar) relatif lebih mudah dibanding intervensi untuk mengurangi SES secara langsung. Tapi saya kok tidak sepakat, mengingat sistem pendidikan tidak kalah kompleksnya dibanding sistem ekonomi. In any case, artikel ini cukup meyakinkan dalam argumen utamanya: perbedaan SES berujung pada kesempatan belajar yang berbeda, yang kemudian membuahkan prestasi yang berbeda pula. 

Saturday, May 19, 2018

Asingnya Dunia Ilmu Pengetahuan: Obrolan Sabtu Pagi

"Why Schools Matter. Ini buku apa, Daddy?" tanya Little A ketika melihat buku yang tergeletak di meja dapur.


Buku yang ia baca judulnya ini adalah salah satu referensi klasik mengenai pengaruh kurikulum terhadap hasil belajar siswa. Terbit tahun 2001 dan ditulis oleh pakar-pakar pendidikan dari Michigan State University (Schmidt dan kawan-kawan), "Why School Matters" didasarkan pada analisis dokumen kurikulum serta hasil tes matematika dan sains pada siswa dari hampir 50 negara.

Merangkumkan isi buku semacam ini untuk siswa kelas 4 bukan hal mudah. Tapi saya juga tidak ingin membuang kesempatan ngobrol tentang buku ini. Karena itulah saya bertanya balik: "What do you think? Menurutmu apa kira-kira isinya?"

Saturday, May 12, 2018

Analisis Data dengan MPlus: Menyiapkan Data dari SPSS

Catatan: tulisan ini adalah bagian materi kuliah saya di program S2 dan S3 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Jika anda ingin mengutip atau mereproduksinya, jangan lupa menyertakan sitasi dan link ke halaman blog ini. Terima kasih dan selamat membaca!
__________________________________________

MPlus perlu file data dalam bentuk "Tab Delimited" (ekstensinya .dat). [Baca pengantar tentang MPlus di sini.] Seperti saya tulis di posting sebelumnya, file data ini bisa disiapkan menggunakan spreadsheet editor seperti Open Calc atau Excel.

Bagaimana jika anda sudah memiliki data yang tersimpan dalam format SPSS (.sav)? Mudah saja. Di SPSS, cukup gunakan perintah "Save As" di sebagai file .dat. Seperti terlihat di gambar, klik menu File, kemudian cari tombol Save As ...


Thursday, May 10, 2018

Analisis Data dengan MPlus: Menyiapkan Data dari Excel

Catatan: tulisan ini adalah bagian materi kuliah saya di program S2 dan S3 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Jika anda ingin mengutip atau mereproduksinya, jangan lupa menyertakan sitasi dan link ke halaman blog ini. Terima kasih dan selamat membaca!
__________________________________________

OK, anda sudah menginstal MPlus di komputer. Jika belum, baca posting saya sebelumnya.

Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah menyiapkan file data yang hendak dianalisis. Ada beberapa cara untuk menyiapkan file data. Bagi yang terbiasa menggunakan SPSS, penyiapan file data agar sesuai permintaan MPlus ini terasa sedikit "ribet".

Jika data anda masih berupa kuesioner tertulis yang harus diinput ke bentuk digital, maka cara paling mudah barangkali adalah menggunakan aplikasi spreadsheet seperti Open Office Calc (gratis!) atau MS Excel. Berikut langkah-langkahnya:

Wednesday, May 9, 2018

Analisis Data dengan MPlus: Pengantar

Catatan: tulisan ini adalah bagian materi kuliah saya di program S2 dan S3 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Jika anda ingin mengutip atau mereproduksinya, jangan lupa menyertakan sitasi dan link ke halaman blog ini. Terima kasih dan selamat membaca!
__________________________________________

Seperti kebanyakan orang yang belajar psikologi, sebelum ini saya hanya menggunakan SPSS untuk analisis statistik. Tapi untuk sebuah project saya harus menerapkan MLM. Ini bukan MLM yang itu lho ya, tapi multilevel linear modeling alias pemodelan linier multijenjang.

MLM sangat berguna (atau bahkan mutlak diperlkan) ketika kita berhadapan dengan data dari sampel berjenjang. Ini terjadi ketika, misalnya saja, seorang peneliti sosial melakukan sampling pada level wilayah geografis (kota, desa, dll.), sebelum memilih responden di wilayah-wilayah yang terpilih tersebut. Atau ketika peneliti pendidikan memilih sejumlah sekolah, sebelum mengambil sampel siswa dari tiap sekolah tersebut.

Ilustrasi sampel dua-jenjang: sekolah dan siswa (sumber: https://www.methods.manchester.ac.uk)

Tuesday, November 21, 2017

Sekolah Bukan Tempat Menimba Ilmu


“Jadi teori gaya belajar ini salah, pak?” tanya salah satu peserta mata kuliah psikologi pendidikan yang saya asuh. “Lebih tepatnya begini: klaim-klaim utama yang diajukan oleh teori tersebut tidak didukung oleh hasil penelitian,” jawab saya. “Kalau begitu, mengapa teori itu diajarkan di kuliah?” mahasiswa tersebut melanjutkan. “Lho, mengapa tidak boleh menjadi bahan kuliah?” saya balik bertanya. “Begini pak. Kuliah kan seharusnya menyampaikan yang benar, kok pak Nino malah membahas teori yang salah? Bingung saya pak,” katanya dengan nada menggugat.

Memang, meski populer, teori gaya belajar tidak memiliki landasan ilmiah kuat. Dan justru itulah yang menjadi fokus kuliah tersebut: mengevaluasi kuat lemahnya landasan ilmiah sebuah teori yang populer di kalangan pendidik maupun orang awam. Kuliah saya awali dengan menyampaikan klaim sentral teori gaya belajar, yakni bahwa proses belajar akan lebih efektif jika materi disampaikan sesuai dengan gaya belajar tiap siswa. Saya menanyakan apakah mereka percaya pada klaim tersebut. Mahasiswa kemudian saya ajak merefleksikan pengalaman belajar mereka sendiri. Saya juga membuat simulasi kecil dan merangkumkan hasil-hasil penelitian tentang gaya belajar. Di akhir pertemuan, saya menanyakan lagi apakah mereka percaya klaim teori gaya belajar.

Thursday, October 19, 2017

Ngobrolin Kematian di Meja Makan

Oleh: Anindito Aditomo

Kemarin saya makan malam berdua saja dengan anak ragil. Di meja makan, bukannya mulai menyantap cap cay masakan ibunya, ia malah mengajukan pertanyaan bertopik horor: "Dad, enaknya mati itu umur berapa?"
 

"Maksudmu gimana?" saya tanya balik sambil berusaha memahami apa yang ada di benaknya. Entah mengapa, ia sedang galau memikirkan kematian. "Mati kan menakutkan. Setelah itu kita nggak bisa hidup lagi." Betul, saya jawab.
 

"Kita ada di mana setelah mati?" Saya jawab bahwa kalau menurut ilmu biologi, kematian adalah akhir kehidupan. Tidak ada kelanjutannya. Tapi justru karena sudah mati, kita tidak bisa merasakan apa-apa. Tidak takut, tidak khawatir soal apa-apa lagi.


"Enggak masuk surga?" kejarnya lagi. Saya jawab bahwa menurut keyakinan agama Islam, ruh orang-orang yang baik akan masuk surga setelah mati. 


"Di surga ada sungai susu ya? Tapi kalau ruh, apa masih bisa minum? Dan kalau nggak suka susu gimana?" Saya jawab bahwa itu mefatora. Intinya, surga adalah tempat yang menentramkan dan menyenangkan. 


"Apa nggak bisa kembali hidup setelah mati? Jadi binatang atau orang lain?" Saya jawab, itu yang terjadi menurut keyakinan sebagian agama Budha. Rupanya konsep reinkarnasi - kemungkinan untuk hidup kembali di dunia yang ia ketahui bentuknya ini - lebih menarik baginya. Tapi saya katakan bahwa tapi saya nggak tahu banyak tentang ajaran itu. 


"Jadi yang benar yang mana? Apa yang terjadi setelah kita mati?" Saya bilang, kita nggak bisa tahu pasti apa yang akan terjadi setelah mati. Tapi yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan ketika masih hidup. Memikirkan bagaimana supaya hidup kita bahagia dan membuat orang lain bahagia.
 

Untunglah, jawaban itu membuat anakku berhenti bertanya. Sambil mulai makan, saya mikir kalau jawaban itu sepertinya lebih pantas menjadi nasehat untukku sendiri, hahaha.

Wednesday, September 13, 2017

Menukar Peran Konsep dan Contoh: Cara Sederhana Menghidupkan Kuliah Metode Penelitian

Oleh: Anindito Aditomo

 
Kemarin malam saya mengajar dasar-dasar metode penelitian kuantitatif menggunakan materi tentang psikologi moral. Biasanya, minggu-minggu awal kuliah metode penelitian saya isi dengan mempresentasikan definisi konsep-konsep dasar seperti penyimpulan induktif vs deduktif dan paradigma penelitian sosial. Tentu saya juga memberi contoh-contoh spesifik. Namun dalam pendekatan mengajar yang biasanya, contoh-contoh spesifik tersebut berperan sebagai ilustrasi saja. 

Lakon utama dalam alur perkuliahan tetap konsep-konsep abstrak terkait metode penelitian. Kuliah disetir oleh kebutuhan “menuntaskan” materi.
 
Kuliah kemarin agak berbeda. Saya mencoba membalik peran dan porsi contoh vs. konsep abstrak. Lakon utama dalam alur cerita perkuliahan kemarin bukan lagi konsep-konsep tentang metode penelitian, melainkan upaya ilmuwan psikologi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang moralitas. Saya hanya menggunakan 5 slide yang semuanya terkait studi-studi spesifik tentang moralitas. Tak satu slide pun berbicara tentang definisi atau pengertian konsep abstrak tentang metode penelitian. 
 
Kuliah saya buka dengan mengajukan pertanyaan, “Dari manakah asal-usul moralitas?” Jawaban mahasiswa saya petakan pada dua pandangan populer, yakni empirisisme dan nativisme. Menurut pandangan pertama, moralitas individu berasal dari masyarakat (yang menjelaskan mengapa ada variasi antar budaya). Menurut yang kedua, manusia sudah memiliki moralitas sejak lahir. Lantas bagaimana kita bisa mengecek pandangan mana yang lebih benar? Di sinilah materi tentang metode penelitian mulai relevan. Kuliah berlanjut dengan membedah tiga gelombang penelitian tentang asal-usul moralitas, mulai dari Kohlberg, Turiel, dan Haidt.
 
Di sela-sela diskusi tentang studi-studi spesifik, saya ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mahasiswa berpikir tentang metodologi secara lebih abstrak. Misalnya, setelah memaparkan riset Kohlberg dengan cerita-cerita dilema moralnya, saya menanyakan apakah studi tersebut menggunakan logika deduktif atau induktif. Saya minta mahasiswa mencoba mengidentifikasi jenis-jenis variabel dan metode pengambilan data yang diteliti oleh Kohlberg, serta memikirkan apakah studi tersebut lebih cocok disebut survei atau eksperimen. Proses ini saya ulang untuk setiap penelitian yang dibahas.
 
Seberapa berhasilkah percobaan saya? Dari proses kemarin, rasanya pendekatan baru ini cukup menjanjikan. Semua mahasiswa menanggapi pertanyaan dengan menawarkan pandangan mereka. Untuk tiap pertanyaan, selalu ada perbedaan pendapat di antara peserta kuliah, masing-masing dengan sokongan alasan yang logis. Simpulan-simpulan yang saya ajukan juga tidak selalu langsung dipercaya oleh peserta kuliah – tanda bahwa mereka berpikir kritis.
 
Tentu sulit bagi saya untuk mengklaim bahwa semua peserta kuliah sudah menguasai materi. Tapi yang jelas, ketika kuliah saya akhiri beberapa mahasiswa spontan menyeletuk “Lho waktunya sudah habis? Kok nggak terasa?” Respon-respon menyenangkan yang sayangnya masih jarang saya dapat dari peserta kuliah

Monday, September 4, 2017

Asal-usul Moralitas

Oleh: Anindito Aditomo

Dari manakah moralitas berasal? Apa yang menentukan penilaian moral (moral judgment) kita? Mengapa dua orang yang sama-sama punya common sense, bisa begitu berbeda pendapat dalam menilai benar-salahnya sebuah tindakan? Saya menjadi tertarik mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini semenjak Pilkada Jakarta kemarin.

Bagi saya, perdebatan tentang berbagai isu terkait Pilkada mencerminkan perbedaan mendasar dalam penilaian moral, alias apa yang seharusnya dianggap benar dan salah. Sebagian kalangan tersinggung dan merasa bahwa kalimat “Jangan mau dibohongi pakai al-Maidah” melanggar batas moral. 
 
Sebagian lagi justru menilai ucapan tersebut sebagai tindakan bermoral karena menguak manipulasi agama untuk kepentingan politik. Sebagian kalangan merasa sah-sah saja mengancam tidak menyolatkan jenazah pendukung Ahok. Bagi yang lain, ancaman tersebut jelas melanggar nilai-nilai moral. Sebagian kalangan percaya bahwa memilih pemimpin non-Muslim melanggar moral agama. Sebagian yang lain justru percaya bahwa memilih Ahok adalah tindakan yang bermoral.
 
Dalam pertentangan moral semacam ini, dialog menjadi sulit bukan saja karena masing-masing pihak merasa benar. Dialog menjadi sulit juga karena masing-masing pihak benar-benar tidak bisa memahami perspektif lawannya. Mengapa demikian? Sebagian jawabannya dipaparkan Jonathan Haidt, seorang kampiun psikologi moral kontemporer, dalam bukunya “The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion”. Tulisan berikut menyarikan Bab 1 dari buku tersebut, ditambah bumbu dari beberapa sumber sekunder.
 
Nature vs. Nurture
 
Sebagaimana banyak pertanyaan mendasar tentang manusia, variasi jawaban tentang asal-usul moralitas bisa dipahami dalam kerangka alam (nature) vs pengalaman (nurture). Jawaban pertama, nativisme, mementingkan nature dan menyatakan bahwa moralitas itu bawaan. Manusia sudah punya moralitas dari “sono-nya”. Jawaban ini punya varian religius dan ilmiah. Varian religiusnya, nilai-nilai moral adalah anugerah dari Tuhan, satu paket dengan berbagai sifat dan karakteristik bawaan lainnya. Varian ilmiahnya, proses evolusi jutaan tahun telah membekali manusia dengan intuisi-intuisi moral yang penting untuk keberlangsungan hidup.
 
Jawaban nativisme sulit menjelaskan mengapa nilai-nilai moral kerap berbeda antar kelompok budaya. Perilaku yang dianggap tak bermoral oleh satu budaya kadang dianggap boleh-boleh saja, atau bahkan terpuji, di budaya lain. Ada banyak contohnya. Memanggil orang tua atau guru secara langsung dengan namanya dianggap tabu (melanggar moral) di banyak masyarakat Timur, namun biasa saja di masyarakat Barat. Mengonsumsi daging adalah hal biasa saja di banyak budaya, tapi dipandang tak bermoral di budaya-budaya tertentu. Hubungan seks di luar pernikahan adalah tindakan terlarang di banyak masyarakat, tapi merupakan hal biasa di masyarakat yang lain. Bekerja di luar rumah bagi perempuan dipandang sebagai hal mulia di sebagian masyarakat, tapi dicibir dan bahkan dilarang oleh masyarakat yang lain.
 
Keragaman nilai moral ini mendasari jawaban kedua tentang asal-usul moralitas, yakni empirisisme. Dalam pandangan ini, moralitas berasal dari lingungan, atau lebih tepatnya, dari norma sosial yang diwariskan pada anak-anak melalui proses akulturasi. Kita mewarisi nilai-nilai moral dari apa yang diajarkan oleh orang tua dan masyarakat. Empirisisme menolak asumsi bahwa nilai moral bersifat bawaan lahir. Salah satu implikasi dari empirisisme adalah relativisme moral: tidak ada tatanan nilai moral yang lebih baik atau lebih buruk daripada yang lain.
 
Mendobrak Dikotomi Nature vs. Nurture
 
Baik nativisme maupun empirisisme moral, dalam bentuk murninya, merupakan pandangan kuno. Psikologi modern menawarkan jawaban ketiga, rasionalisme, yang mengatasi dikotomi palsu antara empirisisme dan nativisme. Peletak fondasi rasionalisme moral tak lain adalah Jean Piaget, ilmuwan biologi yang kemudian menjadi raksasa intelektual psikologi abad ke-20 melalui riset-risetnya tentang perkembangan kognitif anak.
 
Piaget menyatakan bahwa yang berubah ketika anak-anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa bukan sekedar bertambahnya pengetahuan (yang diperoleh dari lingkungan). Yang berubah adalah struktur kognisi itu sendiri, dari yang semula hanya bisa memroses informasi sensorik (indrawi), menjadi bisa memroses informasi yang semakin abstrak. Pola perubahan struktur kognisi ini bersifat universal: semua orang yang berkembang secara normal akan mengalami tahapan perkembangan yang sama, terlepas dari budaya dan lingkungannya. Dengan kata lain, template perkembangan kognitif manusia (atau setidaknya predisposisinya) bisa dianggap bersifat bawaan.
 
Piaget percaya bahwa struktur kognitif dasar yang kita miliki digunakan untuk bernalar bukan hanya tentang dunia fisik, tapi juga dunia sosial maupun moral. Dengan demikian, penalaran moral seharusnya mengikuti tahapan perkembangan kognitif yang ditemukan Piaget. Hipotesis kasarnya begini: pada masa anak-anak, penalaran moral anak seharusnya konkret dan tidak logis, namun menjadi abstrak dan lebih logis mulai masa remaja. Hipotesis Piagetian ini dieksplorasi secara ekstensif pada tahun 1960an oleh Lawrence Kohlberg, yang menciptakan cerita-cerita singkat untuk menilai penalaran moral. 
 
Tiap cerita tersebut memuat dilema moral, yakni pertentangan antara dua prinsip moral. Salah satu dilema moral Kohlberg yang paling terkenal adalah cerita tentang lelaki bernama Heinz yang mencuri obat demi menyelamatkan nyawa istrinya. Cerita ini membenturkan nilai kepatuhan hukum dengan nilai kemanusiaan. [Dilema serupa tercermin pada kisah tragis Fidelis Sudewarto, lelaki asal Kalimantan yang menanam ganja untuk merawat istrinya yang menderita kanker.]
 
Analisis terhadap alasan responden dalam menilai benar-salahnya para tokoh cerita-cerita Kohlberg menunjukkan bahwa penalaran moral berjalan melalui tiga tahap utama: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Pada tahap pra-konvensional, penghakiman tentang benar dan salah dilakukan berdasar hukuman atau hadiah yang diterapkan oleh orang dewasa. Bila Heinz masuk penjara karena mencuri obat, maka Heinz pasti salah. Pada tahap konvensional (usia sekolah dasar), mulai muncul kesadaran bahwa aturan merupakan kesepakatan sosial. Salah dan benar dinilai berdasarkan hukum atau aturan yang berlaku. Bila masyarakat di mana Heinz berada memaklumi pencurian yang dilakukan karena terpaksa, maka perbuatannya pun dipandang tidak melanggar moral. 
 
Pada tahap pasca-konvensional (usia remaja), mulai bernalar tentang alasan yang melandasi aturan formal. Remaja yang berada pada tahap ini mulai mengembangkan prinsip-prinsip moral mereka sendiri untuk menilai apakah sebuah aturan itu adil, kapan otoritas perlu dipatuhi dan kapan boleh membangkang, dst.
 
Kohlberg tidak berhenti pada memaparkan tahapan perkembangan moral. Ia juga menulis tentang implikasi pedagogisnya. Karena moralitas adalah hasil dari penalaran individu, untuk menjadi matang secara moral, anak-anak perlu diberi banyak kesempatan untuk bermain peran dan berlatih melihat dari perspektif orang lain dalam situasi-situasi di mana ada pertentangan pendapat dan nilai moral. Bermain peran dan bertukar perspektif ini lebih mudah dilakukan dalam interaksi sesama anak, dan sangat sulit dilakukan dalam interaksi dengan orang dewasa. Perkembangan moral akan terhambat jika anak-anak hanya diminta mematuhi aturan dan memercayai begitu saja nilai-nilai moral yang dipegang oleh orangtua/masyarakatnya.
 
Intuisi moral
 
Metode penelitian Kohlberg mengandalkan kemampuan memberikan respon verbal (bahasa) dari para respondennya. Kemampuan bahasa ini bisa jadi variabel yang mengotori validitas simpulan Kohlberg: jangan-jangan tahapan perkembangan yang ditemukan sekedar mencerminkan pertumbuhan kosakata dan kemampuan menyusun kalimat, dan bukan peningkatan penalaran moral itu sendiri? Elliot Turiel, salah seorang murid Kohlberg, memodifikasi metode gurunya untuk mengecek kemungkinan tersebut.
 
Seperti Kohlberg, metode Turiel melibatkan cerita-cerita pendek, namun dengan pertanyaan yang bisa dijawab dengan “Ya/Tidak” oleh responden. Dalam salah satu cerita Turiel, seorang siswa pergi ke sekolah mengenakan pakaian bebas, padahal di sekolah tersebut siswa seharusnya menggunakan seragam. Responden kemudian ditanya, “Apakah yang dilakukan siswa itu benar?” Sebagian anak pada tahap pra-konvensional akan menjawab bahwa siswa itu salah. Responden kemudian diberi pertanyaan lanjutan: “Kalau hal itu terjadi di sekolah lain yang tidak mengharuskan siswa memakai seragam, apakah siswa itu tetap salah?” Responden biasanya menjawab bahwa hal itu menjadi boleh dilakukan. Dengan kata lain, responden pada rentang usia pra-konvensional ternyata sudah menyadari bahwa aturan merupakan konvensi sosial.
 
Yang lebih menarik adalah ternyata para responden Turiel memberi jawaban berbeda untuk kasus yang melibatkan pelanggaran norma kesejahteraan dan keadilan. Misalnya, Turiel menggunakan cerita siswa yang mendorong temannya sampai jatuh demi merebut ayunan. Sebagian besar responden menyatakan bahwa tindakan itu salah, meski hal itu dilakukan di tempat yang aturannya membolehkan siswa saling dorong dan berebut mainan. Turiel menyimpulkan bahwa meski tidak bisa menjelaskan alasannya dengan baik, anak-anak sudah bisa membedakan antara aturan moral dengan aturan yang merupakan konvensi sosial. Bagi Turiel, ini meunjukkan bahwa anak-anak punya intuisi bawaan yang mereka gunakan untuk mengenali aturan moral (yang berbeda dari aturan sosial). Turiel menyebutkan dua intuisi moral bawaan, yakni keyakinan akan prinsip “dilarang menyakiti orang lain” dan prinsip “dilarang curang/berbuat tidak adil”.
 
Teori intuisi moral Turiel punya kesamaan dengan rasionalisme moral-nya Kohlberg. Keduanya menyatakan bahwa moralitas adalah hasil karya individu, buah dari penerapan sifat bawaan manusia pada pengalaman sehari-hari. Bedanya, pada Kohlberg, landasan moralitas adalah skema-skema kognitif yang memungkinkan anak mengonstruksi prinsip moralnya sendiri. Pada Turiel, landasannya adalah intuisi tentang keadilan dan pencegahan rasa sakit. Karena skema maupun intuisi moral bersifat universal, moralitas yang dihasilkan pun seharusnya universal, meski dengan corak atau perwujudan yang berbeda-beda antar budaya.
 
Apakah intuisi moral universal?
 
Jika Turiel benar, maka orang dari berbagai budaya akan menggunakan intuisi moral tentang keadilan dan pencegahan rasa sakit untuk menilai benar-salah sebuah tindakan. Asumsi inilah yang dikaji dan dikritik oleh Jonathan Haidt, salah satu peneliti psikologi moral paling berpengaruh saat ini. Haidt adalah sarjana filsafat yang kemudian menekuni studi psikologi. Di satu sisi, ia sebenarnya lebih sepakat dengan teori intuisi moral Turiel daripada teori penalaran moral Kohlberg. Di sisi lain, Haidt merasa bahwa dua intuisi moral yang diajukan Turiel mengandung bias kelas menengah-atas Barat.
 
Keraguan Haidt bersemi ketika ia mengambil mata kuliah psikologi kultural yang diasuh seorang antropolog brilian bernama Alan Fiske. Dalam kuliah itulah Haidt membaca beberapa karya etnografi yang menggambarkan sistem moral yang begitu asing bagi orang Barat. Sebuah suku di Papua Nugini, misalnya, punya aturan yang rumit tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh lelaki dan perempuan. Anak lelaki yang beranjak dewasa di suku tersebut harus menghindari makanan apa pun yang menyerupai vagina (misalnya, makanan yang merah, berlendir, berasal dari lubang, atau berambut). Pantangan ini tidak menyangkut pertimbangan gizi atau kesehatan (misalnya, untuk menghindari makanan beracun). Juga tak ada hubungannya dengan pembagian sumberdaya antar individu atau kelompok. Dengan kata lain, pantangan itu tidak bisa dipahami dari intuisi moral pencegahan rasa sakit maupun intuisi keadilan. Meski absurd menurut kacamata orang luar, aturan tersebut digunakan sebagai standar untuk saling menilai moralitas anggota suku tersebut.
 
Dari contoh-contoh semacam itu, Haidt berhipotesis bahwa intuisi moral pasti lebih beragam daripada yang diajukan Turiel. Tiap budaya menekankan kombinasi intuisi yang berbeda, sehingga menghasilkan sistem moral yang berbeda pula. Untuk menguji hipotesisnya, Haidt membuat cerita-cerita “harmless taboo violations” (tindakan melanggar tabu, namun tidak menyakiti siapa pun) dan meminta responden untuk menilai apakah tokoh ceritanya bisa dianggap melanggar moral. Berikut contohnya (Haidt, 2012, hal 3):
“Sebuah keluarga memiliki seekor anjing peliharaan. Suatu hari, anjing itu mati tertabrak mobil di depan rumah. Salah satu anggota keluarga mengatakan bahwa daging anjing itu enak. Bangkai anjing peliharaan itu pun dipotong-potong, dimasak, dan dimakan bersama. Tidak ada orang yang melihat mereka melakukannya." 
Berikut contoh cerita lain yang lebih menantang:
“Ada seorang lelaki yang setiap akhir pekan membeli ayam utuh di supermarket. Sesampai di rumah, ia menyetubuhi alias berhubungan seks dengan bangkai ayam tersebut. Setelah itu ia memasak dan menyantap ayam tersebut.”
Haidt membandingkan respon dari orang-orang kelas menengah atas di kota besar di Amerika, dengan orang-orang kelas bawah di kota yang sama, serta orang-orang dari sebuah desa di Brazil. Bila Turiel benar, maka tidak akan ada perbedaan mendasar antara respon berbagai kelompok tersebut. Semua akan mengatakan bahwa pelaku perbuatan dalam cerita-cerita itu menjijikkan karena melanggar norma kepantasan. Namun demikian, perbuatan itu tidak bisa dianggap salah secara moral karena tidak ada yang disakiti atau menjadi korban.
 
Data yang dikumpulkan Haidt menggugurkan asumsi universalitas Turiel. Ternyata, respon yang sejalan dengan prediksi Turiel hanya muncul pada orang-orang kelas menengah atas di kota besar di Amerika. Sebagian besar responden dari kelompok lainnya menyatakan bahwa perbuatan dalam cerita-cerita tersebut bukan hanya menjijikkan, tapi juga salah secara moral. Haidt menyimpulkan bahwa mereka menggunakan intuisi moral yang berbeda dari intuisi moral orang kelas menengah atas Barat. 
 
Temuan ini membuka jalan bagi penelitian untuk memetakan intuisi-intuisi yang menjadi landasan nilai dan sistem moral berbagai budaya.
 
Penutup
 
Menurut Haidt, keragaman intuisi moral menjadi kunci untuk memahami bukan saja perbedaan antar budaya/bangsa, tapi juga antar kelompok ideologi/politik. Keragaman intuisi moral menjelaskan, misalnya saja, mengapa ada orang-orang Islam yang sangat terganggu dengan adanya restoran babi panggang di sebuah pasar, namun ada juga orang Islam yang tidak memersoalkannya. Seperti apa persisnya, saya belum bisa bercerita karena memang belum tamat membaca bukunya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...